Seputar Direktorat dan Balai

Direktorat AKABI Pacu Produksi Bahan Pangan Alternatif

Administrator | Rabu, 10 Juli 2013 - 09:17:19 WIB | dibaca: 777 pembaca

Guna mengurangi ketergantungan konsumsi masyarakat terhadap beras sekaligus untuk mensukseskan program diversifikasi pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terus memacu produksi  bahan pangan alternatif seperti ubi jalar, ubi kayu, talas, ganyong,dsb. Upaya ini memang tidak mudah karena sebagian besar masyarakat sudah sangat tergantung  mengkonsumsi  bahan pangan  beras dan terigu khususnya indomi. Untuk itu, kampanye keanekaragaman bahan pangan yang berbasis bahan pangan lokal   harus digencarkan sekaligus meningkatkan teknologi pengolahan, pengemasan dan daya tarik bahan pangan lokal tersebut di mata konsumen.

Demikian ditandaskan oleh Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi (AKABI), Dr.Ir Maman Suherman MM dalam talk show yang digelar dalam rangkaian Pameran Agro and Food Expo di JCC Jakarta belum lama ini. Talk show yang melibatkan puluhan mahasiwa IPB ini dipandu oleh Kapus. Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Ir.Sri Sulihanty dan juga menghadirkan Profesor (Riset) Dr. Djoko Said Damarjati dari Puslitbang Tanaman Pangan, Balitbang Kementerian Pertanian.
 
Maman mengakui bahwa peningkatan produksi bahan pangan alternatif berbasis komoditas lokal memang tidak mudah. Tantangan untuk memacu produksi komoditas ini terutama di bidang perbenihan.  Varietas yang tersedia saat ini sangat terbatas, demikian juga teknologi budidaya, pengolahan dan pengemasannya, umumnya masih  secara tradisional. Bentuk produk dan penggunaannya masih cenderung berupa tepung sebagai  bahan campuran tepung terigu.
 
Dalam  urusan lahan, tanaman bahan pangan alternatif ini juga harus bersaing secara ketat dengan komoditi pangan lainnya khususnya di lahan kering seperti jagung dan kedelai. Ini menyebabkan skala usaha ekonomisnya sering tidak tercapai. 

Keterbatasan teknologi dan kualitas  lahan yang digunakan berpengaruh terhadap produksi dan produktifitas. Singkong misalnya, potensi produksinya sebenarnya bisa mencapai 100 ton/ha, namun selama ini baru mencapai rata-rata 20 ton,  Maman menambahkan.
 
Karena itu, menurut Maman, langkah ke depan untuk mengangkat pamor bahan pangan alternatif ini yakni dengan memacu produktivitas melalui teknologi, meningkatkan kinerja penanganan pasca panen serta menggalakkan teknologi pengolahan dan kemasannya, sehingga lebih menarik di mata konsumen

                                                                                                Dukungan Kebijakan
Sementara itu Dr. Djoko Said Damarjati mengakui besarnya potensi bahan pangan alternatif di dalam negeri, tapi potensi tersebut belum banyak dimanfaatkan. Masalah utamanya menurut karena dari sisi kebijakan, upaya ke arah itu belum sepenuhnya mendukung karena pemerintah masih mengutamakan produksi bahan pokok utama seperti beras, jagung dan kedelai.
 
Pola konsumsi masyarakat yang sudah begitu melekat dan identik dengan beras dan tepung terigu (mi instant) juga memperlambat pemanfaatan potensi tersebut. Seolah-olah makanan yang layak itu adalah nasi, sementara bahan pangan lainnya seperti umbi-umbian dianggap sebagai makanan kurang bernilai sehingga cenderung diabaikan.
 
Padahal, menurut  Damarjati, negara-negara di dunia  seperti India misalnya sejak lama sudah memacu masyarakatnya mengkonsumsi aneka bahan pangan. Rumah tangga di India selalu menyiapkan minimal 12 jenis makanan sebagai makanan pokok sehari-hari, sehingga ketergantungan kepada jenis pangan tertentu bisa dihindarkan.
 
Karena itu, agar program diversifikasi pangan bisa berhasil, pemerintah harus lebih gencar mengkampanyekan pengurangan konsumsi nasi di tiap rumah tangga. Jika kita mampu mengurangi konsumsi beras 1 sendok/kapita/hari, dengan penduduk sekitar 240 juta, kita bisa menekan konsumsi beras dalam jumlah signifikan, tambah Damarjati.
 
Menanggapi usul mahasiswa   tentang pengembangan beras  analog hasil pengembangan IPB, baik Maman maupun Damarjati tetap menghargai berbagai innovasi di seputar pengembangan bahan pangan alternatif. Tapi keduanya mengingatkan selain memenuhi syarat-syarat kesehatan, harga bahan pangan alternatif tersebut  harus relatif mudah pembuatannya di samping harganya juga murah, sehingga terjangkau masyarakat luas (tpl)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)