Artikel/Teknologi

Pengendalian OPT Tikus

Administrator | Rabu, 10 Juli 2013 - 07:44:01 WIB | dibaca: 888 pembaca

Pengendalian OPT
Guna mencapai sasaran tersebut, selain   memacu produksi dan produktivitas dengan dukungan teknologi, Ruswandi juga mengingatkan  bahwa  pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi sangat penting dan strategis. Agar sasaran produksi bisa tercapai, minimal 97 persen dari areal pertanaman harus aman dan terhindar dari serangan OPT, tandasnya.
Ia juga menjelaskan,  agar  langkah penanggulangan OPT bisa berjalan efektif, kegiatan ini harus dilakukan secara terencana dan terarah,  baik saat pratanam maupun pada masa vegetatif tanaman .
Pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi tikus sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Binatang yang satu ini termasuk mahluk yang pertumbuhan populasinya sangat cepat. Jika kita mampu membunuh sepasang tikus pada awal pratanam, maka sawah kita sudah terhindar dari serangan 150-200 ekor tikus pada masa vegetatif tanaman, tandas Rustandi di hadapan para petani yang memenuhi Balai Desa Sidorejo tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa  terlepas dari metode yang digunakan, kunci keberhasilan penanggulangan tikus adalah pola kerjasama. Kegiatan ini harus dilakukan secara serentak, melibatkan petani/masyarakat dalam jumlah besar dan  pada hamparan yang luas. Jika dilakukan secara sendiri-sendiri, hasilnya akan sia-sia.
Untuk itulah, Kasubdit OPT ini ini mengingatkan agar falsafah hidup gotong royong yang telah diwariskan nenek moyang kita dari dulu harus tetap diaktualkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya  para petani, ujarnya.

Seperti diamanatkan oleh  UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, pengendalian hama dan penyakit tanaman sepenuhnya  merupakan tanggung jawab petani dan masyarakat. Pemerintah hanya sebatas memberikan bimbingan teknis pengendalian OPT dan menyalurkan bantuan apabila  petani dinilai sudah tak mampu lagi mengatasinya (serangan sudah tahap eksplosi).
Dalam kaitan ini, Ruswandi menandaskan bahwa petani dan masyarakat memang perlu terus diingatkan dan dimotivasi agar kesadaran dan kewaspadaan akan pentingnya pengendalian OPT ini tetap terjaga.
Untuk itulah, pemerintah khususnya dalam pemberantasan hama tikus menempuh berbagai jurus dengan mengajak dan melibatkan sebanyak mungkin komponen masyarakat. Ini misalnya dilakukan dalam beberapa tahun terakhir dengan menjalin kerjasama dengan pihak TNI di berbagai daerah untuk bergotong royong, bersama-sama dengan petani melakukan pemberantasan hama tikus  secara serentak dan dalam hamparan yang luas.
Data dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan menunjukkan bahwa luas serangan hama tikus pada tanaman padi Indonesia selama 5 tahun terakhir (2007-2011) rata-rata mencapai 158,9 ribu ha/tahun dan 2,6 ribuan hektar di antaranya fuso. Pengendalian hama tikus relatif sulit dilakukan antaralain karena lingkungan  habitat dan lingkungan  pengembangbiakannya banyak tersedia. Misalnya semak belukar, pematang, gundukan tanah, tanggul-tanggul irigasi, tanggul-tanggul rel kereta api bahkan  areal pemukiman.

Regu Pengendali Hama
Guna lebih mengefektifkan penanggulangan hama pengerat yang satu ini, pemerintah juga telah menelorkan kebijakan baru mulai tahun 2013 yakni merekrut sejumlah petani alumni SLPHT menjadi petani pengamat yang tergabung dalam Regu Pengendali Hama (RPH). Kehadiran RPH ini diharapkan akan memperkuat kehadiran Brigade Proteksi Tanaman yang selama ini merupakan ujuk tombak penanggulangan OPT di lapangan. Bersama petani, mereka ini antaralain melakukan pengendalian serta mendorong petani untuk melaksanakan gerakan pengendalian dini secara cepat, tepat, akurat dan serempak. Selain memperoleh uang transport, mereka juga akan mendapatkan pelatihan dan bimbingan dari instansi teknis yang bersangkutan   Ruswandi menjelaskan.
Sementara itu, Kepala BP-3K Kab. Banyuasin, Sudarjo memaparkan bahwa Kecamatan Muara Padang termasuk andalan produksi pangan khususnya padi di kabupaten tersebut. Tahun 2012, areal padi di kecamatan ini mencapai  15.600 ha dan melibatkan sebanyak 242 kelopok tani. Dari 15 desa yang ada, 13 di antaranya merupakan eks kawasan transmigrasi yang mulai ditempati antara 1980-1981.
Produktivitas padi di wilayah kecamatan ini  lumaian bagus yakni rata-rata 4 ton/ha. Namun ia juga mengakui bahwa di lahan yang masuk lahan pasang surut tipe C dan D, produktivitas ini relatif rendah bahkan karena kondisi pengairan kurang mendukung, beberapa petani mulai mengalihkan lahannya ke tanaman sawit dan karet, termasuk di sekitar Desa Sidorejo.
 
IP- 200
Upaya meningkatkan produksi khususnya padi terus dilakukan. Mulai tahun 2013, pihaknya telah mencoba  menerapkan Pola IP-200 untuk areal 1.075 ha di 3 desa. Upaya ini diharapkan akan mampu meredam alih fungsi lahan ke tanaman perkebunan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, ujarnya.
Seperti diungkapkan oleh Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura,Sumsel, Amran Anang, pengendalian tikus pada masa pratanam melalui pengasapan dengan menggunakan Tiran cukup efektif di daerah lahan pasang surut. Di samping itu, penggunaan fiber yang berfungsi sebagai tembok pengaman yang dipasang di sekeliling persawahan juga sudah mulai dicoba khususnya di sekitar Kecamatan Muara Telang. Ia juga berpesan agar petani tidak mudah mengalihkan tanamannya ke sawit atau karet, karena hasilnya tidak otomatis lebih menguntungkan. Sebagai contoh, ia menunjuk sejumlah petani sawit yang TBS-nya hanya dihargai Rp 200/kg di lokasi kebun, padahal di tingkat pabrik harganya bisa mencapai Rp 1.200/kg.  
 Tanaman padi masih jauh lebih menguntungkan untuk lokasi transmigran seperti di Kec. Muara Padang ini. Selain untuk kebutuhan konsumsi, beras juga bisa dijual kapan saja, ujarnya meyakinkan petani. 

                                                                                                                                Areal Pasang Surut
Provinsi Sumatera Selatan hingga saat ini masih termasuk salah satu daerah andalan produksi pangan nasional khususnya beras di luar P.Jawa. Potensi lahan yang masih cukup besar, sehingga mendorong pertumbuhan  produksi dan kontribusi  daerah ini terhadap ketahanan pangan nasional khususnya dalam pengadaan  beras.Tahun 2010 misalnya, provinsi yang sebagian besar lahan persawahannya berupa lahan pasang surut ini mampu mencatat surplus beras sekitar 1,2 juta ton. Ini dihasilkan oleh produksi padi sebesar 3,272 juta ton (GKG) atau sekitar 2,053 juta ton beras. Dengan sekitar 7,5 juta penduduk dan   konsumsi  102 kg/kapita per tahun, kebutuhan beras daerah ini hanya sekitar 850 ribu ton/tahun.
Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Sumsel menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir, produksi padi  provinsi  ini meningkat  rata-rata 100 ribu ton per tahun. Bahkan antara 2006-2007 pertumbuhan produksi ini   sempat mencapai 300 ribu ton (GKG) dan tahun  2008  sekitar  220 ribu ton.  Tahun 2012 ini, sasaran produksi padi daerah ini mencapai 3,48 juta ton, 2013 sekitar  3,70 juta ton dan tahun 2014  menjadi 3,93 juta ton.
Sentra produksi padi Sumsel masih didominasi oleh Kabupaten Banyuasin yang sebagian besar berupa lahan pasang surut. Tahun 2011, kabupaten ini menyumbang produksi padi sebesar 820,37 ribu ton, Kab. OKU Timur 682,59 ribu ton dan Kab.OKI sebesar 542,29 ribu ton. Kabupaten Banyuasin juga merupakan sentra padi lahan surut terbesar di provinsi ini dengan luas lahan 195 ribu ha, disusul Musi Banyuasin 35,76 ribu ha dan KAB. OKI sekitar  22,40 ribu ha. Sementara kabupaten yang menjadi sentra padi irigasi yang seluruhnya mencapai 111,25 ribu ha, tersebar  di Kab. OKU Timur seluas 37,6 ribu ha, Lahat 15,78 ribu ha, OKU Selatan 14,85 ribu ha dan Kab.Musi Rawas sekitar 14,33 ribu ha. 

Dengan makin intensifnya pengelolaan lahan pasang surut, antaralain dengan menggunakan teknologi fiber untuk meredam serangan hama tikus, daerah ini masih berpeluang untuk mendongkrak produksinya secara lebih signifikan. Fiber sebagai pagar keliling persawahan sudah terbukti mampu meredam serangan hama tikus, sehingga mendorong pertumbuhan produktivitas antara 1-1,5 ton/ha. Penggunaan fiber sebagai tameng tanaman padi terhadap serangan tikus dimulai sekitar 2009, dan teknologi ini merupakan hasil innovasi para petani dan penyuluh di kawasan pasang surut, khususnya di sekitar Kecamatan Muara Telang, Kab. Banyuasin. Tahun ini dan ke depan, penggunaan fiber semakin meluas, baik karena dukungan  pemda kabupaten, pemprov. Sumsel dan pemerintah pusat (Ditjen Sarana dan Prasaran Pertanian), serta hasil swadaya petani sendiri. (Humas TP/tpl)

Sumber : Sub bagian Hukum dan Humas










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)